DUNIADI GENGGAMAN, AKHIRAT DI HATI Bagikan Artikel ini. Terkadang hati dan iman kita sedang lemah, kita bisa jadi timbul rasa iri, mereka bisa segera meraih kenikmatan dunia, sedangkan kita terkadang sibuk dengan menuntut ilmu dan dakwah sehingga dunia tidak banyak kita dapat. Maka kita ajaklah mereka berlomba-lomba dengan akhirat misalnya:
Gambardiambil 1 September 2020. (REUTERS/Akhtar Soomro) Jakarta (ANTARA) - Tinder, layanan kencan daring, mengurungkan rencananya untuk membawa kencan daring ke dunia metaverse akibat bisnisnya yang akhir-akhir ini melesu. Kabar itu disusul dengan mundurnya sang CEO yaitu Renate Nyborg yang bahkan belum genap setahun menjabat sebagai pemimpin
Dimuatdi Pustaka HARIAN BHIRAWA, Jum'at, 22 Maret 2013. Judul Buku: I Love Maghrib Penulis: Arini Hidajati Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta Cetakan: I, Januari 2013 Tebal: 238 halaman ISBN: -8. Kehidupan di dunia hanyalah temporer. Tidak ada yang kekal kecuali Dzat Yang Maha Kekal. Namun, tarikan pesona dunia kerapkali
HIKMAH| Kekayaan Dunia Akhirat Oleh Biki Zulfikri Rahmat. Nabi Sulaiman AS berdoa memohon kekayaan demi tujuan mulia, yakni digunakan di jalan Allah, untuk menyeru manusia kepada agama Allah, dan agar dirinya sibuk berzikir. Pernyataannya diabadikan di dalam Alquran sebagai berikut, "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang
Segalapuji bagi Allah yang telah menurunkan kalam-Nya, Al Qur'an sebagai penyejuk hati. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Sungguh diri ini kadang terkagum-kagum dengan dunia. Begitu terpesona sampai lupa daratan. Dunia pun dikejar-kejar tanpa pernah merasa puas. Sifat qona'ah, merasa
Cukuplahdunia dalam genggaman, dan akhirat di dalam hati. #tausiyah #motivasiislami #kelaskangawin #kelasmentoringgratis
. Bagi saya, bagian berat dalam mencari pekerjaan adalah menjaga hati. Karena kalau 'sekedar' bolak-balik luar kota untuk ikut psikotest dan interview, fisik saya insyaAllah beda dengan hati yang suka kita ga sadari berubah arah haluan. Dalam kurun beberapa bulan ini, saya sibuk nyari kerja sana sini. Hasilnya kebanyakan nihil. Ya gapapalah, namanya juga belum rezeki, ucap saya waktu itu. Ucapan ini selalu berhasil saya lontarkan di tiap kegagalan cari kerja dan emang saya let it flow sesuatu berubah ketika saya mulai mempertanyakan "apa yang salah ya dari persiapan saya?". Karena saya kerap cek common mistakes saya dalam hal teknis CV, psikotest, interview, dan saya perbaiki kok. Pertanyaan tadi ga salah, namun ketika pertanyaan itu berubah menjadi rasa ketidakPDan, maka hati saya rasanya sempit tiba-tiba. Belum lagi saya disuguhkan liat teman-teman saya yang rasanya sudah/sedang menuju puncak kejayaan di hidupnya. Serius, hati saya jadi sesak. Pandangan saya jadi kosong utk beberapa muncul lah rasa minder saya. Pertanyaan seperti "nanti kalo gabisa punya rumah atau aset gono gini gimana, ga kayak si itu yg udah punya ini itu?" spt bisikan iblis. Pikiran saya kerap memotivasi saya utk jatuh. Hati saya makin sesak."There must be something wrong with me"Iya. Saya bilang gitu karena saya biasanya gak gitu. Ah, emang dasar aja yasudah, isenglah saya sliweran di Youtube, cari hiburan. Ya beberapa video lucu cukup menghibur saya, tapi tidak mengisi atau meluaskan hati saya yang sempit. Saya sadar hati saya sempit, makanya saya butuh motivation sengaja, saya ketemu videonya Ust. Oemar Mita judulnya "Tanda Anda Sudah Menjadi Budak Dunia". Instan, saya langsung klik! Sepertinya sudah naluri. Memang Allah ingin saya melihat video itu video itu, ust. Oemar Mita menyebutkan beberapa hal tanda seseorang menjadi budak dunia. Tapi saya langsung mendapat motivation sparks saya di poin pertama. Apa yang pertama? Yaitu ketika ibadah kita diniatkan semata-mata untuk mendapatkan dunia. Shalat kita mungkin tuma'ninah, tapi dalam hati sebetulnya ingin agar kita dapat segenggam dunia. Sedekah, tapi niat biar kaya. Puasa, biar dapet kerja. Berbuat baik, biar mudah dapet jodoh. Lalu, beliau menyebutkan sebuah ayat dalam Al-Quran, yang membuat Sahabat paling menangis ketika membacanya. Yaitu surat Hud ayat 15-16مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” Referensi Dari sini saya langsung mempelajari 2 hal. Pertama, ibadah saya. Saya coba cek ibadah saya, seperti shalat dan puasa ramadhan, apa jangan-jangan selama ini ibadah saya diniatkan cuma biar dapet kerja. Apa sedekah saya diniatkan agar saya dapat harta berlimpah ruah dan jodoh? Apa kebaikan saya selama ini saya niatkan agar Dia kasih keinginan dunia tentang akhir dari segalanya. Saya lupa, hidup ini bukan cuma tentang mencari pekerjaan, harta, jodoh, kekuasaan, harta, dll. Saya lupa bahwa ada kehidupan abadi, akhir dari dunia tapi awal dari segalanya. Saya lupa bahwa bumi ini kecil. Saya lupa kalo bumi dibanding langit pertama hanya seperti cincin di padang pasir. Kenapa saya jadi sefana ini?Akhirnya saya menyadari bahwa saya menaruh dunia ini di hati saya. Wajar hati saya jadi sempit. Padahal harusnya dunia ini hanyalah di genggaman tangan.
Oleh M. Rasyid Nur ADA pesan Imam Syafii, ulama terkenal, satu di antara empat mazhab agama Islam yang ada. Dia berpesan begini, "Jadikanlah akhirat di hatimu, dunia di tanganmu dan kematian di pelupuk matamu." Subhanallah. Akhirat, dunia dan kematian, tiga hal yang diingatkannya dalam satu kali pesan. Ketiga hal itu pasti akan ada dan diyakini akan ditemui oleh setiap manusia beriman. Tidak ada diantara kita yang -beriman- tak yakin akan kedatangan ketiga hal itu. Jadikan akhirat di hati, artinya keyakinan akan kehidupan abadi di akhirat hendaklah ada senantiasa di hati kita. Tidak cukup di pikiran dan perasaan saja. Lalu, jadikan dunia di tanganmu, artinya urusan dunia sebagai jembatan ke akhirat itu hendaklah berada di tangan. Maksudnya itulah yang saat ini dikerjakan. Sementara kematian yang setiap orang tidak akan pernah tahu kapan datangnya haruslah diletakkan di pelupuk mata. Artinya kematian itu diyakini begitu dekatnya dengan kita. Jangan sampai lalai karena tidak tahunya tanggal dan hari kematian. Jika dia serasa berada di pelupuk mata, artinya kita persis dalam posisi begitu dekat. Bisa hanya sekerdip mata saja datangnya. Jika akhirat sudah bersemayam di hati maka setiap tindak-tanduk yang dilakukan sebagai aplikasi kehidupan di dunia ini akan selalu terkaitkan dengan akhirat itu. Karena akhirat adalah hari pembalasan atas apa yang dilakukan di dunia, maka kita tidak ingin pembalasan itu berupa azab dikarenakan tindak-tanduk kita yang melawan ketaatan. Dapat dipastikan, jika semangat akhirat sudah tersimpan dengan baik di hati kita otomatis kehidupan dunia kita pun aka menjadi baik. Akan halnya nasihat kematian yang akan menimpa semua makhluk hidup seperti kita kapan dan dimanapun jua, sudah tepatlah jika dia seolah diletakkan di atas pelupuk mata. Artinya setiap kerdip mata, setiap seepat itu manusia bisa saja mengalami kematian. Jangan bayangkan kematian itu akan datang per tahun atau per bulan. Bahkan jarak per jam dan per detik pun itu terlalu lama. Karena ternyata setiap kerdip mata bisa saja kematian menimpa kita. Makanya, dikatakan, letakkan kematian di pelupuk mata. Hidup sesudah mati itulah sesungguhnya titik akhir yang akan menjadi tujuan semua orang. Dunia dan kehidupan yang ada di dalamnya adalah prosesi perjalanan dari semua perbuatan yang hasil balasan akan diterima nanti. Orang beriman akan tetap berperinsip bahwa sekarang -di dunia- bekerja dan nanti -di akhirat- menerima hasilnya.*** Tulisan yang sama di SHARE THIS Author M. Rasyid Nur M. Rasyid Nur Pensiunan Guru PNS 2017 dan tetap, mengabdi di pendidikan serta organisasi sosial, keagamaan dan kemasyarakatan Facebook Comment
Doa Abu Bakar “Jadikanlah kami kaum yang memegang dunia dengan tangan kami, bukan hati kami.” Dan doa sahabat Umar Al-Khattab “Ya Allah, tempatkanlah dunia dalam genggaman tangan kami dan jangan kau tempatkan ia di lubuk hati kami.” Sesusah mana pun seseorang itu menjalani kehidupan di dunia, dia mungkin masih juga memilih untuk terus berada di dunia. Jika diberikan pilihan dengan kematian saat ini juga, pasti rata-rata akan berfikir dua kali untuk memilih kematian. Kerana apa? Kerana mereka sudah disajikan dengan nikmat dunia – kebebasan bernafas, makanan yang lazat di dunia; bahkan ada yang dilimpahi kemewahan yang tiada tolok bandingnya dengan orang lain. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan berfikir – dunia ini hanyalah sementara. Dunia ini pinjaman daripadaNya. Segala apa yang kita nikmati hari ini hanyalah secebis jika dibandingkan dengan nikmat syurgaNya kelak. Apabila tiba saatnya untuk kita meninggalkan dunia ini, segala nikmat dan harta kemewahan yang kita miliki sebelum ini takkan kita bawa bersama. Yang ada hanyalah selembar kain kafan dan amal kita di dunia. Sesungguhnya dunia ini adalah jalan, akhirat itu matlamat dan tujuan yang sebenar-benarnya. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara sebelum kita tiba di perkampungan akhirat. Tak salah untuk menghargai nikmat dunia selagi mana kita tahu dan tidak meminggirkan akhirat. Kerana apa? Kerana kita adalah khalifah di bumi Allah, dan kita ada tanggungjawab untuk menghadapi dunia dalam perjalanan menuju akhirat. Suatu hari Umar Al-Khattab berkunjung ke rumah Rasulullah Beliau mendapati Rasulullah Saw sedang berbaring di atas selembar tikar. Setelah masuk dan duduk di samping Rasulullah, Umar Al-Khattab tersedar bahawa tidak ada apa-apa yang menjadi alas tidur Rasulullah selain selembar tikar dan sehelai kain. Beliau mampu melihat dengan jelas bekasan tikar pada kulit tubuh Rasulullah. Umar Al-Khattab terus mengamati keadaan rumah Rasulullah Sangat sederhana. Di satu sudut rumah terdapat sebekas gandum. Di dindingnya tergantung selembar kulit yang sudah disamak. Umar menitiskan air mata melihatkan kesederhanaan manusia yang mulia itu. “Mengapa Engkau menangis wahai Ibnu Khattab?” Tanya Rasulullah. “Ya Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis melihat bekasan tikar di badanmu dan rumah yang hanya diisi barang-barang itu. Padahal Kisra dan Kaisar hidup dalam gelumang harta kemewahan. Engkau adalah Nabi Allah, manusia pilihan. Seharusnya engkau jauh lebih layak mendapatkan kemewahan yang lebih.” Lalu jawab Baginda, “Wahai Ibnu Khattab, apakah engkau tidak redha, kita mendapatkan akhirat, sedang mereka hanya mendapatkan dunia?” ***** Kita hanyalah musafir di dunia fana ini. Segala apa yang kita lakukan di dunia akan dipersoalkan di akhirat kelak. Hatta sekecil perbuatan membeli jarum sekalipun. Kita akan disoal dari mana datangnya wang yang kita gunakan untuk membeli jarum itu, dan apa tujuan jarum itu dibeli. Adakah digunakan ke arah kebaikan dan membawa manfaat untuk orang lain atau sebaliknya? Daripada Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Ambillah dari dunia ini apa yang halal untukmu, jangan kau lupakan bahagianmu dari dunia. Namun jadikanlah dunia itu berada di tanganmu saja, jangan kau jadikan berada di dalam hatimu. Ini yang terpenting.” Syarh Riyadhus Shalihin Pernah dengar kisah mengenai Mush’ab bin Umair? Seorang pemuda di zaman Rasulullah Beliau merupakan pemuda yang paling tampan dan kaya raya di kota Mekah. Namun, ketika Islam datang, beliau meninggalkan kemewahan dunianya demi kebahagiaan akhirat. Ibu dan ayah Mush’ab bertindak mengurung Mush’ab selama beberapa hari dengan harapan bahawa Mush’ab akan meninggalkan Islam. Namun usaha itu tidak sedikitpun melemahkan keyakinan Mush’ab terhadap Islam. Setelah beberapa hari hukuman itu tidak membuahkan hasil, akhirnya Mush’ab dibebaskan buat sementara waktu. Suatu hari Mush’ab melihat ibunya dalam keadaan pucat lesi, lalu beliau bertanyakan sebabnya. Kata ibunya, dia telah berniat di hadapan berhala untuk tidak makan dan minum sehingga Mush’ab meninggalkan Islam. Lalu jawab Mush’ab, “Wahai ibuku, andaikata ibu mempunyai seratus nyawa sekalipun, dan nyawa itu keluar satu persatu, nescaya aku tidak akan meninggalkan Islam sama sekali.” Lemah si ibu mendengarkan kata-kata anaknya. Dengan jawapan tersebut juga, Mush’ab dihalau keluar dari rumah ibunya. Maka Mush’ab pun tinggal bersama Rasulullah dan sahabat-sahabat yang serba daif ketika itu. Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah sejenis kain yang kasar yang tidak menutupi tubuhnya secara penuh. Mereka pun menunduk. Mush’ab mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah, mereka memuliakannya dan memberinya pelbagai kesenangan dan kenikmatan. Tidak ada pemuda Quraisy yang sama dengan dirinya. Dan dia meninggalkan kenikmatan itu demi cintanya kepada Allah dan RasulNya”.” Hadith Riwayat Hakim Tak salah untuk kita menikmati kemewahan dan nikmat dunia. Kerana itu semua adalah rezeki daripada Allah kepada hamba-hambanya yang berusaha. Namun, seimbangkan dan berkatkan rezeki yang diperolehi itu ke jalan Allah. Seimbangkan antara nikmat dunia dan persiapan kita dalam menghadapi alam akhirat. Ada orang, mereka tidak mahu hidup dalam kemewahan yang melampau, kerana bimbang mereka akan lupa diri. Ada orang, mereka mahu Allah berikan nikmat kemewahan, supaya mereka mampu mengecapinya dengan nikmat memberi. Kita? Bergantung kepada diri kita sendiri, yang mana mahu kita pilih, selagi kita berada betul di landasan redhaNya. Imam Ali pernah berkata, “Kuasai dunia dan pimpinlah dia. Letakkan dia di tanganmu tapi jangan menyimpannya di hatimu.” Mereka yang meletakkan dunia di hati akan mudah merasa kehilangan. Jika hartanya diuji dengan berkurang sedikit, mereka akan mula merasa kerugian. Mereka akan menjadi orang-orang yang sayangkan harta kebendaan dan sukar untuk berkongsi sesama manusia meskipun hal itu membawa kerberkatan padanya. Mereka akan merasa tidak tenang kerana takut harta mereka hilang atau berkurang. Seterusnya, mereka akan sentiasa dihimpit rasa takut untuk menghadapi kematian. Belajar untuk meletakkan dunia di tangan dan bukannya di hati. Kerana sampai satu saat, kita akan terpaksa melepaskan apa yang tergenggam di tangan. Sematkan akhirat di hati, kerana walau sebesar dan senikmat mana pun dunia ini, kita tetap takkan mampu mengetepikan hakikat akhirat. Maklumat Penulis Artikel ini ditulis oleh Nurul Azzianie binti Ahmad Zamri. Berasal dari Kelantan. Masih lagi belajar. Berminat menulis artikel? Anda inginkan supaya hasil penulisan anda diterbitkan dalam website iluvislam? Klik sini.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sesusah-susahnya orang menjalani hidup di dunia, dia tetap saja merasa betah tinggal di dalamnya. Saat orang ditawari untuk mati saat ini juga, dia pasti berfikir dua kali untuk meng-iyakannya. Hidup di dunia memang betah. Menikmati tarikan nafas dari udara yang gratis, masih diberi enak makan dan nyenyak tidur, sehat fisik, apalagi kalau diberikan berbagai kemudahan dari rezeki duniawi. Uang banyak, harta berlimpah, istri cantik dan anak-anak yang shaleh shalehah. Tapi pernahkah kita berfikir bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara saja. Hanya mampir ngombe kalau istilah Jawa. Sehingga segala sesuatu yang menempel dengan urusan duniawi pun hanyalah sementara. jabatan, pangkat, keberlimpahan harta, semuanya sementara. Pada akhirnya tak ada yang akan kita bawa jika maut datang menghampiri kita. Hanyalah selembar kain kafan saja dan amal kebaikan yang akan setia menemani kita. Istri dan anak-anak yang sangat kita cintai, tak akan pernah mau menemani kita masuk liang lahat, koleksi rumah mewah, kendaraan mahal, emas intan permata, semuanya akan kita tinggalkan. Semuanya pergi, semuanya meninggalkan kita. Semuanya tak akan ada yang mampu menolong dan menyelamatkan kehidupan kita selanjutnya pasca masuk melalui pintu kematian. Jadi letakkanlah dunia di tanganmu jangan di hatimu. Dunia yang ada di dalam genggaman tangan, akan menjadikan kita tidak terjebak pada sikap terlalu mencintai dunia. Tak akan terjerembab pada laku culas dan kerakusan yang sangat, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Dunia yang diletakkan di dalam genggaman tangan, akan menjadi wasilah kebermaknaan dan kemanfaatan bagi mahluk Tuhan yang lain. Dia akan banyak berterima-kasih pada Tuhan dan sesama manusia lainnya. Saat ia menerima, dia akan segera kasih kepada orang lain, peduli dengan sesama. Terima....Kasih..! Terimaa...Kasih..! begitulah satu ungkapan kalimat yang sering kita katakan. "terima kasih". Dia tidak akan berlaku layaknya fir'aun dan qorun yang hobinya mengumpul-ngumpul harta, hingga kunci lemari dan gudangnya pun harus diangkut oleh unta. Dia tidak akan sekali-kali meletakkan dunianya di dalam hati. Orang yang meletakkan dunia di dalam hati, akan selalu banyak merasa kehilangan, jika hartanya berkurang walau sedikit. Dia akan segan dan sayang untuk berbagi pada sesama, untuk memberi kemanfaatan bagi manusia yang lainnya. Dia akan merasakan sakit, pikiran tegang dan tak akan pernah merasa tenang dalam segala keberlimpahannya. Ketakutan akan senantiasa menderanya. takut di rampok orang, takut didatangi orang yang meminta sumbangan, takut ditangkap oleh aparat negara, takut kekayaannya hilang dari kehidupannya. Dia akan sangat takut miskin, dan pada akhirnya berharap akan hidup selamanya, takut akan datangnya kematian. Kemalangan apa yang lebih dalam, selain hati yang diliputi oleh urusan duniawi yang melalaikan. Hati yang sibuk dengan urusan dunia. Hati yang dipenuhi kecintaan terhadap dunia dan membenci kematian, hubbud dunya wa karahiatul maut. Letakkanlah dunia dalam genggaman tangan, jangan letakkan dunia di dalam hati. Lihat Filsafat Selengkapnya
Saudaraku, kita perlu sadari dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata,هب الدنيا في يديك ، ومثلها ضم إليك ، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك ، فإذا جاءك الموت ، فماذا في يديك“Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah perbendaharaan timur dan barat datang kepadamu, akan tetapi jika kematian datang, apa gunanya yang ada di genggamanmu?” Siyarul A’lam An-Nubala 8/330Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara saja. Janganlah kita lalai dan tertipu seolah-olah akan hidup di dunia selamanya dengan mengumpulkan dan menumpuk harta yang sangat banyak sehingga melalaikan kehidupan akhirat Ta’ala berfirman,إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula penipu syaitan memperdayakan kamu dalam mentaati Allah.” Luqmaan 33Allah juga berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” Ali Imran 185Allah juga berfirman,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” Al Hadid 20Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja. Selain itu, bukan lah harta kita, walaupun hakikatnya itu adalah milik kita di dunia, karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja atau KOLEKSI harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu1. Makanan yang kita makanMakanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati. Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja2. Pakaian yang kita pakaiTermasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan3. SedekahIni adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di duniaSelebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta -Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja -Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan -Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat sajaInilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tigaRasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja? ” HR. Muslim no. 2958Riwayat yang lain,ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan. ” HR. Muslim no. 2959Dunia memang kita butuhkan dan tidak terlalrang kita mencari harta dan dunia akan tetapi harus kita tujukan untuk orientasi semoga bermanfaat Yogyakarta TercintaPenyusun Raehanul BahraenArtikel
dunia di genggaman akhirat di hati